5 Faktor Penyebab Encok

Kamis, 27/05/2010

Jakarta, Nyeri, sendi kaku, rasa panas, kemerahan dan bengkak pada pangkal ibu jari kaki, tumit, lutut, pergelangan kaki, tangan dan siku adalah ciri-ciri terkena encok. Kenali 5 penyebabnya agar terhindar dari encok.

Encok merupakan penyakit yang disebabkan penumpukan kristal asam urat di dalam jaringan ikat, yaitu ruang antara dua tulang atau di dalam tulang itu sendiri.

Penumpukan kristal ini menyebabkan peradangan artritis yang memicu pembengkakan, kemerahan, rasa panas, nyeri serta kekakuan di sendi.

Asam urat yang menumpuk tersebut merupakan zat yang dihasilkan dari pemecahan purin, zat ini merupakan bagian dari semua jaringan manusia dan ditemukan pada berbagai jenis makanan.

Seharusnya asam urat ini terlarut dalam darah dan melewati ginjal hingga akhirnya dikeluarkan melalui urin. Tapi jika produksi asam urat di tubuh meningkat dan ginjal tidak cukup kuat menghilangkan asam urat, maka kondisi ini memicu terjadinya hyperuricemia (peningkatan kadar asam urat dalam darah).

Seperti dikutip dari Medic8.com, Kamis (27/5/2010) ada faktor penyebab encok yaitu:

  1. Kelebihan berat badan. Hal ini karena terdapat lebih banyak jaringan yang bisa pecah atau berganti sehingga memicu meningkatnya produksi asam urat.
  2. Terlalu banyak minum alkohol, sehingga mengganggu perjalanan asam urat untuk keluar dari tubuh.
  3. Adanya gangguan pada salah satu enzim yang membantu pemecahan senyawa purin yang membuat seseorang kena encok jika makanan makanan yang mengandung purin.
  4. Mengonsumsi obat tertentu seperti salisilat, cyclosporine, levodopa atau obat diuretik.
  5. Genetik kemungkinan memainkan peran, meskipun tidak terlalu besar. Karena diperkirakan sekitar 18 persen orang yang encok memiliki riwayat penyakit ini.

Jika tubuh rentan terkena encok maka yang harus dilakukan:

  1. Minum banyak cairan terutama air putih, karena cairan bisa membantu menghilangkan asam urat berlebih dari dalam tubuh.
  2. Menghindari makanan yang mengandung banyak purin seperti bir, minuman alkohol, teri, ikan sardin, telur ikan, ragi, hati, ginjal, kacang-kacangan (kacang polong, melinjo), ekstrak daging, kaldu, jamur, asparagus, bayam dan kembang kol.
  3. Menjaa berat badan dengan berolahraga secara teratur.
  4. Jangan melakukan diet secara ekstrim, karena hal ini juga bisa meningkatkan kadar asam urat dalam darah.
  5. Memberitahu dokter semua obat dan vitamin yang dikonsumsi untuk mencegah peningkatan risiko hyperuricemia dari obat-obatan yang diminum.

Encok sering disebut asam urat, tapi penyakit ini berbeda dengan rematik. Karena encok terkait dengan gangguan metabolisme pengeluaran kadar asam urat dalam darah yang tersumbat menjadi kristal. Sedangkan rematik adalah penyakit sendi karena adanya gangguan autoimun yang berlangsung lama. *Detik.com 270510

Read Users' Comments (0)

Mudah Lupa, Inilah Penyebabnya

Selasa, 18/05/2010

JAKARTA— Pernahkah Anda lupa? Misalnya lupa membawa dompet atau lupa tempat menyimpan telepon seluler, lupa mengunci pintu rumah atau lupa mematikan kompor? Jika Ada pernah mengalaminya, jangan cemas dulu. Penyakit lupa merupakan hal wajar.

Untuk Anda ketahui, susunan otak kita terdiri dari dua unsur sel. Yang pertama adalah sel neuron. Sel yang biasa juga disebut sebagai sel saraf ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan informasi.

Sel saraf ini juga mengantar informasi-informasi dari dan ke tubuh kita. Sel saraf inilah yang mengendalikan ingatan, perhatian, persepsi, pertimbangan, bahasa, dan kesadaran kita. Jumlahnya mencapai ratusan juta sel.

Sementara unsur sel yang kedua adalah glia. Sel yang juga dinamai sel schwann ini bertugas membuat selubung lemak untuk melindungi saraf. Sel glia juga bertugas memberi asupan nutrisi ke saraf.

Terkadang informasi-informasi tersimpan dalam saraf yang sama. Akibatnya, informasi itu saling bertumpuk atau informasi yang masuk terdahulu tertutupi oleh informasi baru.

Kenyataan itu yang disebut dengan lupa atau tidak ingat. "Tak peduli saat sehat atau sakit, lupa bisa terjadi kapan saja," terang Rocsky Situmeang, dokter spesialis saraf Siloam Hospital Karawaci, Tangerang.

Rocsky menjelaskan, secara umum, proses lupa bisa terjadi karena beberapa hal. Lupa bisa terjadi karena kegagalan pada proses pengodean suatu informasi.

Misalnya Anda kehilangan dompet karena lupa di mana menaruhnya. Hal ini bisa terjadi karena saat meletakkan dompet itu pikiran Anda sedang tidak terfokus. "Pikiran sedang mengembara ke hal yang lain," terang Mulyadi Tedjapranata, Direktur Medizone Clinic, Jakarta.

Jadi, saat Anda memasuki proses mengingat, saraf Anda tidak bisa memberikan informasi letak dompet itu. Justru yang muncul adalah informasi yang Anda pikirkan saat meletakkan dompet tadi. Pada tahap ini, yang terjadi adalah proses mengingat berlangsung secara benar, tetapi informasi yang masuk salah.

Lupa juga bisa terjadi karena informasi yang masuk ke saraf terlalu banyak. Contohnya saat belajar. Biasanya orang juga melakukan kegiatan lain, seperti ngemil atau mendengarkan musik.

"Konsentrasi akan terganggu karena informasi yang masuk cukup banyak dalam waktu bersamaan," jelas Rocsky.

Ilmu yang sedang Anda pelajari masuk bersamaan dengan teks lagu yang sedang Anda dengarkan. Lalu saat mengingat, informasi yang keluar bisa saja bukan soal pelajaran, tetapi teks lagunya.

Penyebab lupa yang lain adalah kegagalan fungsi otak. Otak tidak bisa menampung atau mengeluarkan informasi karena sel otak mengalami gangguan. Penyakit yang menyerang saraf biasanya mengakibatkan penurunan fungsi mengingat. Penurunan daya ingat ini biasa disebut demensia.

Menurut Mulyadi, penyakit demensia ini cukup berbahaya. Sebab, jika tak diatasi, bukan cuma fungsi mengingatnya yang turun, tetapi juga mental. "Akibatnya, tidak hanya dirinya sendiri yang akan merasakan, tetapi secara sosial ia juga akan terpengaruh," ujarnya. (Adi Wikanto) *Kompas.com 18052010

Read Users' Comments (0)

Stres Pikiran Menambah Tekanan Darah

Kamis, 06/05/2010

Stres pikiran sangat berpengaruh menambah tekanan darah bagi yang berpenyakit hipertensi. Karena itu pengendalian diri sangat diperlukan untuk menghindari stroke. Demikian dikatakan oleh dr Ilham Uddin, Sp JP (spesialis jantung dan pembuluh darah) di depan ibu-ibu anggota Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Semarang dan beberapa organisasi wanita lain, kemarin (Kamis 29/4) siang di Gedung Serba Guna Fakultas Kedokteran Undip, Jl Dr Sutomo.

IIDI memperingati Hari Kartini dengan menyelenggarakan seminar kesehatan tentang Pencegahan Dini Terhadap Penyakit Jantung Koroner (PJK). Acara terasa semarak karena sebagian besar hadirin mengenakan busana nasional. Juga dimeriahkan dengan musik organ tunggal menampilkan paduan suara dan nyanyian tunggal penyanyi "cilik" di era tahun 1970-an Andriani, yang kini sebagai ketua IIDI Semarang.

Untuk mencegah hipertensi, pengendalian makanan dan aktivitas fisik (olah raga) sangat penting. Pola hidup modern, mengonsumsi makanan berkolesterol tinggi, merokok, stres, super sibuk harus dikendalikan agar terhindar dari PJK. Penyakit kardiovaskuler yang salah satunya adalah PJK merupakan penyebab kematian pertama di negara berkembang menggantikan kematian akibat infeksi.

Diperkirakan tahun 2020, PJK menjadi pembunuh pertama tersering, yakni 36% di seluruh dunia dari seluruh kematian. "Angka ini 2 kali lebih tinggi dari angka kematian akibat kanker. Di Indonesia menjadi penyebab utama dan pertama dari seluruh kematian, sebesar 26,4%. Angka ini 4 kali lebi tinggi dari kematian akibat kanker". Demikian dr Iham Uddin dari SMF/ Bagian Kardiologi dan Kedokteran Vaskular RSUO Dr Kariadi - FK Undip.

Endapan Lemak

Penyakit jantung koroner ditandai dengan mulainya endapan lemak yang berkumpul di dalam sel yang melapisi dinding (endotel) suatu arteri koroner dan berakibat menggangu aliran darah. Kondisi itu menjadikan pasokan darah ke otot jantung berkurang, menyebabkan kerusakan jantung disertai resa nyeri dada.

Selain hipertensi, PJK juga disebabkan karena penyakit diebetes melitus (DM/gula), obesitas atau kegemukan dan merokok. Sementara untuk utuk menurunkan kadar kolesterol adalah dengan melakukan pola hidup sehat. Di antaranya dengan berolahraga secara teratur, menjaga berat badan ideal, mengurangi jumlah alkohol, karbohidrat dan lemak jenuh dalam makanan. Banyak mengonsumsi buah-buahan, sayuran roti gandum, sereal dan buncis.

"Jangan menggoreng makanan. Masaklah dengan microwave, direbus, dipanggang atau dibakar," kata dr Ilham Uddin. *Suaramerdeka.com 29042010

Read Users' Comments (0)